Aku Memutuskan Untuk Menikahi "Sahabat Anakku" Di Usia 46 Tahun, Tapi Hari Kedua Kami Menikah, Aku Langsung Menyesalinya!!


akucintaislami.com - Aku adalah seorang manajer sebuah perusahaan dengan gaji yang bisa dibilang lumayan. Aku punya rumah sendiri, juga punya tabungan pribadi, serta seorang anak perempuan. Istriku meninggal waktu anak kami masuk kuliah, aku pun tidak beerencana untuk menikah lagi, tapi.. kadangkala kenyataan itu gak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan…
Ceritanya begini, yah bisa dibilang aku yang cari masalah sendiri.. Tahun ini aku 46 tahun, anakku Ting-ting baru saja lulus kuliah beberapa waktu lalu. Sebelumnya, di ulang tahunnya yang ke 22 tahun, dia memang mengundang beberapa teman ke rumah untuk merayakan. Dari antara teman-temannya, ada seorang gadis yang lumayan cantik yang memang mengajakku mengobrol, tatapannya nggak pernah lepas kemanapun aku berjalan.

Dari anakku aku tahu namanya Cing-cing. Belakangan, karena anakku mau mencari kerja, Cing-cing sering datang ke rumah katanya mau mencari kerja bersama. Aku juga dengan senang hati memberikan beberapa saran buat mereka tentang pekerjaan yang baik dilakukan dan punya karir yang bagus kedepannya.

Aku nggak tau dari mana Cing-cing tau nomor ponselku, selanjutnya dia suka sms atau meneleponku, lama kelamaan aku pun terbiasa akan keberadaannya.

Anakku dapat pekerjaan yang lumayan baik dengan cepat, tapi Cing-cing belum juga mendapat kerja. Anakku sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya disaat Cing-cing akhirnya sering bosan dan suka datang mencariku. Aku ingat hari itu aku di rumah dan Cing-cing tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia menyukaiku. Aku cuman bengong dan tertawa, dia dan anakku adalah teman sekampus, usia kita pun jauh berbeda! Tapi Cing-cing bilang dia juga nggak perduli, siapa sangka hal ini akhirnya aku terima. Tapi aku kesulitan untuk menjelaskan pada anakku tentang hubungan aku, gimana caranya supaya dia bisa terima Cing-cing. Aku sering mengatakan pada anakku tentang banyak perumpamaan dan pandangannya terhadap beberapa pertanyaanku, tapi jawaban anakku selalu sangat tenang.

Awalnya, aku dan Cing-cing sering pergi diam-diam, tapi aku tidak mau terus begini, sampai akhirnya dia bilang mau menikah denganku, aku kaget dan butuh waktu untuk hal ini, tapi Cing-cing mengatakan kalau dia hamil. Orang tuanya tentu tidak setuju akan pernikahan kami, tapi aku juga nggak tau apa yang Cing-cing bilang sama mereka, gak berapa lama kemudian mereka tiba-tiba setuju. Waktu akhirnya aku memberitahu anakku, anakku langsung menolak mentah-mentah. Karena awalnya aku sudah mengetesnya dengan beberapa pertanyaa, tapi jawabannya selalu baik, aku ingin mendekati anakku, tapi kelihatannya aku juga gak punya alasan untuk minta dia menerimaku.

Aku akhirnya bertengkar dengan anakku, dia bilang kalau aku menikah, dia akan putus hubungan denganku. Tapi aku bilang kalau Cing-cing sudah hamil, anakku cuman bisa menangis dan pergi dari rumah. Aku gak bisa menemukannya, Cing-cing bilang anakku cuman butuh waktu aja dan dia akan mengerti nanti. Tapi sejak itu anakku tidak pernah pulang lagi, bahkan dia juga tidak datang di hari pernikahanku. Aku tahu aku sudah menyakitinya terlalu banyak, tapi aku nggak punya jalan lain, Cing-cing sudah hamil.

Cing-cing sudah tinggal di rumahku beberapa hari sebelum menikah, dia seorang pemalas. Dia tidak masak, tidak mencuci baju, bahkan semua pekerjaan rumahpun tidak ia kerjakan dan dia masih memintaku menjaganya. Walaupun dia memang hamil, tapi hal-hal yang masih bisa dia kerjakan, seharusnya dia tetap melakukannya. Hari kedua setelah kami menikah, aku pergi mandi dan tanpa sengaja melihat bekas pembalut di dalam tong sampah. Saat itu aku tiba-tiba merasa aku sangat bodoh, aku sangat marah dan bertanya padanya soal hal ini. Cing-cing masih mau menutupinya dariku, dia bilang itu mungkin punya orang lain yang datang ke rumah dan pinjam toilet, tapi aku ingat jelas malam sebelumnya dia bahkan gak ijinin aku tidur seranjang sama dia. Dia bilang dia lagi hamil muda dan nggak mau terganggu istirahatnya.
Siang harinya, aku pergi mengecek ponsel Cing-cing. Ternyata dia hanya menginginkan uangku saja. Dia mengatakan pada orang tuanya akan berusaha supaya rumah ini dipindah atas namanya dan dia akan mengajak orang tuanya pindah ke sini.
Sore itu aku menerima sebuah telepon yang mengatakan kalau anakku di rumah sakit, waktu aku sampai di sana, aku baru tahu anakku kecelakaan. Walaupun tidak parah, tapi kakinya mungkin butuh beberapa pelatihan khusus.
Aku menyesal setengah mati, kalau bukan karna dia bilang dia hamil, aku juga nggak akan menikah dengannya! Karena dia hubunganku dengan anakku jadi rusak, bahkan kini anakku kecelakaan. Semuanya memang kesalahanku, aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri dan akhirnya aku mencelakai diriku dan anakku sendiri. Aku sangat menyesal terlalu terlarut dalam perasaan, apa aku seharusnya bercerai dengannya?@Cerpen.co.id
loading...
Loading...
loading...

Subscribe to receive free email updates: